Minggu, 22 Maret 2020

CERPEN KAMPUNG TAMIM (Cerpen Saut Poltak Tambunan)


KAMPUNG TAMIM
Cerpen Saut Poltak Tambunan

Sebotol Coca cola dingin di atas meja, tidak disentuh Romli sama sekali. Ruangan yang harum full AC itu terasa makin gerah. Seramah apa pun Pak Anton yang gagah berdasi ini, tetap saja Romli curiga. Ia tetap merasa orang-orang ini datang jauh-jauh dari kota untuk menjajah kampung.
“Saya tidak akan menjual tanah ini. Ini warisan leluhurku dan akan aku wariskan ke anak-cucuku,” tegas Romli bergumam untuk kesekian kalinya.
“Tapi anak-anakmu sendiri ingin tanah ini dijual saja. Istrimu juga setuju,” tukas Pak Tomi, anak buah kepercayaan Pak Anton, ikut menimpali.
Romli terbungkam. Pak Tomi benar. Ipah, istrinya, serta kedua anaknya. Mumun dan Usman, sudah kebelet betul. Jual saja tanah ini, ambil kreditan rumah BTN di Cikarang dan belikan sepeda motor. Sepeda motor “balap” untuk Usman. Sepeda motor “bebek” untuk Mumun, seperti punya Mandra yang muncul di iklan televisi itu. Dengan sepeda motor itu, Mumun janji akan lebih rajin mengaji dan Usman akan mengojek cari uang.
Tapi bagi Romli masalahnya tidak sesederhana itu. Sudah turun-temurun ia menempati tanah warisan ini. Turun-temurun pula ia setia menekuni pekerjaannya sebagai tukang lemari. Beli kayu mentah di Klender, menukanginya jadi lemari sederhana yang juga mentah tanpa polesan politer, lalu menjualnya kembali ke penampungan di Klender.
Kalau harus pindah dari sini, aku bisa apa? Ikut-ikutan jadi tukang ojek seperti kebanyakan orang kampung ini? Seperti cita-cita si Usman itu? Kata Mumun, Bapak nanti bisa kerja bikin lemari untuk orang-orang di komplek BTN. Ah, enak saja ngomong. Tidak segampang itu, Mun, bantah Romli dalam hati.
“Saya mengerti keadaanmu, Pak Romli,” kata Pak Anton kemudian, “dan itu sebabnya saya bersedia memberikan penggantian lebih besar dari yang diterima tetanggamu, tapi… Pak Romli harus berjanji tidak bilang-bilang kepada mereka.”
Romli tidak bereaksi.
“Kemudian, biaya pemindahan kuburan orangtuamu yang ada di kebun itu, saya juga yang tanggung. Nah, apa lagi yang kurang?”
Romli masih diam.
“Kasihan anak-istrimu itu, Pak Romli,” Pak Tomi nimbrung lagi menambahkan, “mereka tidak mungkin tinggal terus-menerus di situ. Bapak harus menerima kenyataan. Sebagai manusia mereka juga berhak untuk hidup lebih baik. Apalagi anak mantumu sedang hamil, kan?”
“Itu urusan saya,” sahut Romli bergumam. Ia tak suka para penjarah ini bersekongkol dengan kesulitan yang dihadapinya.
“Itu benar. Kami hanya sekedar ingin membantu.”
Lagi-lagi Romli terdiam. Ia tidak mudah dibodoh-bodohi. Ia pernah bersekolah di SD kendati tak sampai tamat. Ia bahkan masih ingat kata Pak Guru bahwa pada mulanya bangsa Belanda datang ke Indonesia dengan dalih membantu. Tahu-tahu menjajah. Dan ini, di hadapannya kini berdiri “belanda-belanda” baru.
“Begini, Pak,” tukas Romli kemudian menegakkan kepalanya, “kalian itu merampok segala-galanya dari kampung Tamim. Ketenteraman, pencaharian, kerukunan, bahkan persaudaraan kami. Sekarang saya terkucil. Bahkan kalian keruk tanah di sekitar rumah saya sehingga rumah saya jadi nyangsang di atas bukit. Sanak saudara menertawakan saya. Bahkan anak-bini saya pun dihasut memusuhi saya.”
“Maafkan, Pak Romli,” sergah Pak Anton, “sebaiknya tidak bicara begitu. Demi Tuhan, tak ada niat kami untuk menyusahkan Bapak.”
“Yah, memang. Tapi berniat atau tidak, akibatnya sama saja bagi saya. Tetap saja saya yang susah.”
“Susahnya Pak Romli itu dibikin sendiri,” tambah Pak Tomo. “Rumah Bapak itu sudah tua. Lantainya tanah. Atapnya bocor di sana sini. Padahal kalau mau, Pak Romli bisa tinggal di rumah BTN yang lantainya kinclong. Pakai keramik.”
“Jelek-jelek, itu rumah warisan. Dan, mau bocor mau nggak. Itu urusan saya,” sela Romli, lagi-lagi merasa jengah tawaran yang menggiurkan itu disandingkan dengan kemiskinannya. “Aku tidak mau sejarah saya digusur begitu saja. Bapak tentu tahu siapa almarhum Haji Tamim…!”
Romli tidak mengada-ada. Haji Ali Tamim adalah kakek buyut Romli yang begitu monumental membuat kampung itu terkenal menjadi kampung Tamim. Kakek buyut Romli itu yang membawa bibit rambutan ke kampung ini. Almarhum juga yang bersusah payah mengajari orang sekampung untuk menanami tanah berbukit-bukit itu dengan rambutan dan nangka. Ternyata rambutan itu amat manis dan kemudian dikenal sebagai rambutan Tamim.
“Almarhum kakek buyut saya bekerja keras dan berkorban sangat banyak untuk membangun kampung ini. Ia disegani dan dihormati sampai ke kampung lain. Sampai-sampai kampung ini dinamai kampung Tamim.”
“Ah, itu lagi yang Bapak persoalkan,” tukas Pak Anton. Tenang dan sangat professional. Ia tahu betul bagaimana harus menahan diri menghadapi orang-orang seperti Romli ini. “Dulu proyek ini bernama Moonlight Garden. Ada kata ‘mun’-nya. Sebab saya tahu anak gadismu yang cantik itu namanya Mumun. Tapi kamu protes juga. Sekarang ganti menjadi Taman Indah Purnama.”
“Purnama itu nama anak Bapak. Saya tahu itu! Begitu gampangnya Bapak menggusur nama almarhum kakek saya dan menggantinya dengan nama anak Bapak, padahal nama Tamim itu menyimpan sejarah. Kakek saya menciptakan sejarah bukan dengan duit. Sekarang enak saja menggantinya, mentang-mentang Bapak punya duit…!”
“Ah, Pak Romli terlalu curiga,” Pak Tomi menengahi, mencoba meredakan emosi Pak Romli. “Coba perhatikan nama baru proyek ini. Taman Indah Purnama. Kalau disingkat mirip TAMIM, kan?”
Pak Anton cengar-cengir mendengar akal bulus anak buahnya itu. Kalau dimirip-miripkan, yang memang mirip. Tapi Pak Romli sendiri justru merasa makin tersinggung. Merasa dianggap bodoh. Amat bodoh!
Romli tetap tidak mau menerima. Jadi tidak ada kesepakatan. Pak Anton bilang tak mungkin menjual real estat dengan nama Tamim. Tidak popular. Tidak komersial. Tidak akan laku dijual.

***
Romli mengembuskan asap rokoknya keras-keras. Ingin ia empaskan ke luar semua beban dari dalam dadanya. Suara tokek serak melemah dari sisa pohon rambutan, merana seperti kehabisan baterai. Seakan bosan dengan tugasnya memberi pilihan bagi Romli yang bingung. Ya, Romli tahu orang sekampung menudingnya bodoh dan keras kepala, pingin benar sendiri. Anak-istrinya pun berpendapat begitu. Romli tak mau peduli. Persetan.
Saudara-saudara sekandung Romli sudah lama merantau meninggalkan kampung ini. Ke Kalimantan, Sumatra, hingga ke Arab Saudi. Tinggal Romli yang masih bertahan. Jika kelak mereka pulang, mereka berkata apa jika mendapati nama Haji Ali Tamim sudah sirna berganti nama dengan Purnama, nama pemilik usaha real estat ini?
Malam semakin larut. Romli kian tenggelam dalam kesendiriannya. Pohon-pohon kecapi, rambutan, dan nangka yang baru belajar berbuah itu pun terdiam sendu. Angin malam tak tega mengusiknya, membuat keheningan makin pekat.
Rumah ini semakin tinggi. Ooo, bukan. Bukan rumah tua peninggalan leluhur Romli ini yang semakin tinggi, melainkan tanah kebun di sekitarnya yang semakin rendah. Pernah Romli mengukur, ada tujuh meter tingginya perbedaan tanah ini dengan tanah si Marta di sebelah. Minggu lalu, di kebun sebelah masih ada pohon jamblang yang, jika terang bulan, dahan dan daunnya membentuk siluet orang tua berjenggot. Sampai-sampai si Marta sekeluarga mengeramatkan pohon itu. Tapi sekarang pohon jamblang itu sudah lenyap, kalah dengan traktor.
Setiap hari deru mesin traktor menggaruk-garukkan keperkasaannya di tanah sekeliling. Puluhan traktor dan ratusan truk pengangkut tanah menyulap dan meratakan tanah berbukit-bukit itu, menjual tanah-tanah merah itu menjadi tanah urukan entah ke mana. Debu tanah merah mengepul ke mana-mana. Pohon-pohon nangka dan rambutan tercerabut ditraktor hingga akar-akarnya.
Lenyap sudah kenyamanan dan kedamaian kampung ini. Dedaunan pohon yang masih bersisa pun tak lagi hijau, sudah tertutup oleh debu tanah. Para tetangga sudah minggat setelah menerima uang penjualan tanah, lalu cari rumah kredit BTN di sana-sini. Kerukunan yang sejak dulu terpelihara sudah tercerai-berai kini. Tinggal empat-lima rumah saja yang masih bertahan di kampung Tamim ini. Itu pun letaknya berjauhan dan hanya menunggu giliran digusur. Uang pembebasan tanah sudah mereka terima.
Begitu tingginya letak rumah Romli sekarang sehingga tampak bagai perahu Nabi Nuh nyangsang di atas bukit. Untuk naik ke sana harus bersusah payah melewati tangga bambu yang disandarkan ke tebing. Atau lewat undak-undakan tanah yang dipapas menyerupai tangga.
Dahulu kampung ini tak pernah sepi. Setidak-tidaknya lebih ramai dari kampung-kampung sebelah. Tetangga yang berangkat dan pulang mengaji saling menyapa dengan ramah. Pekik riuh anak-anak main sepak bola di sela pepohonan rambutan selalu meningkahi hari-hari senja menjelang magrib.
Sekarang semua lenyap, diganti dengan deru traktor dan truk. Kampung lain pun sudah lebih dulu rata dengan tanah. Rumah Romli kini terisolir bersama sepetak kebunnya. Beberapa tetangga jauh yang masih tersisa, kalaupun sesekali lewat, harus berteriak keras menyampaikan salam Assalamu­­-alaikum agar suaranya terdengar ke rumah Romli di “puncak bukit”.
Romli menyalakan lagi rokoknya yang kesekian. Jauh di langit ada bulan nyaris purnama, membuat hatinya makin gundah. Bulan itu mengingatkannya kembali kepada nama yang paling ia benci: Purnama, nama real estat yang sedang menjarah kampung Tamim ini. Bagi Romli, bulan purnama hanya akan menciptakan bayang-bayang yang menakutkan. Sebab di bawah sana, fondasi dan kerangka bangunan baru tampak bagai monster yang dengan rakusnya akan melahap seluruh areal ini.
Satu atau dua bulan lagi, tempat ini akan berubah semuanya. Rumah-rumah mewah yang gagah akan berdiri dengan congkaknya. Kampung Tamim akan lenyap bersama kampung Bojong dan kampung Tipar yang sudah lebih dulu digusur. Rumah-rumah warisan dari abad silam akan benar-benar lenyap bersama kebun nangka dan rambutan. Tak akan ada lagi nangka dan rambutan Tamim yang terkenal itu. Bahkan kuburan para leluhur yang sejak dulu nyaman berteduh di bawah kerindangan itu pun akan digusur, pindah ke TPU.
Seperti benua Atlantis yang lenyap ditelan alam, kampung Tamim pun akan sirna ditelan pemukiman baru. Beberapa tahun lalu mereka memasang papan nama Moonlight Garden. Lalu diganti dengan bahasa Indonesia, real estat Taman Indah Purnama.
Lamunan Romli terusik suara kaki yang melangkah mendekat dari belakang. Ia tahu itu istrinya. Ipah.
“Kenapa belum tidur?” sapa Romli tanpa menoleh.
“Gerah, Bang. Abang juga tidur saja, deh. Besok Abang bisa pikir-pikir lagi,” kata Ipah.
“Mumun?”
“Sudah sedari tadi tidur.”
“Usman sudah pulang?”
“Belum. Ngkali nonton teve di rumah Bang Haji Pi’i. Anak itu nggak usah dipikirin, Bang. Anak laki ini.”
“Bininya?”
“Tidur”
Usman satu-satunya anak lelaki Romli. Belum dua puluh tahun umurnya dan masih menganggur, sudah minta dikawinkan dengan Salmah. Ingat menantunya itu, Romli menghela napas panjang. Kasihan Salmah yang lagi hamil empat bulan itu. Sudah sebulan ini tidak bisa ke mana-mana karena tidak berani turun-naik lewat tangga bambu di dinding “tebing” itu. Ditambah lagi kelakuan Usman yang masih kayak anak kecil. Asyik keluyuran dengan teman-temannya. Istrinya sendiri tidak diurus.
Tahun lalu panen rambutan dipakai untuk beli kulkas, VCD, dan TV yang kini nongkrong di atas bufet. Tapi Usman tetap saja lebih suka menonton teve di rumah Haji Pi’I karena antenanya parabola. Tadi siang pertengkaran kecil terulang lagi di rumah ini. Soalnya itu-itu lagi. Sepeda motor.
“Abang juga sih, tidak mau mengerti kebutuhan anak-anak,” kata Ipah duduk di samping Romli.
“Saya cari uang dari mana, Ipah?” Romli mengeluh. “Harga motor bebek model Mandra di teve itu bukan seratus ribu. Tapi berjuta-juta, Pah.”
“Kalau mau,  sih, Abang bisa.”
Romli diam. Ia tahu ke mana maksud Ipah. Jual tanah.
“Kasihan Mumun,  tuh. Ia sudah mahir naik sepeda motor. Belajar dari teman-temannya.”
“Ya, tapi saya ini ‘kan Cuma tukang lemari. Untuk makan sehar-hari saja susah.”
“Abang, sih, nggak mau…!” Ipah tidak meneruskan, takut Romli marah lagi.
“Yah, memang tidak mau. Tidak akan. Arwah almarhum kakek Haji Ali Tamim dan seluruh moyang kita tidak akan tenang jika namanya sampai lenyap dari kampung ini. Ipah tahu bagaimana ceritanya kampung ini menjadi kampung Tamim? Almarhum yang membangun masyarakat kampung ini. Mendirikan pengajian. Musala. Sebagian hartanya dipakai untuk menolong orang. Untuk amal. Sekarang enak saja mau diganti. Puih!” tukas Romli membelalakkan matanya dan meludah keras-keras. “Tidak bisa. Kampung Tamim tetap kampung Tamim. Tak akan jadi Purnama atau apa pun!”
“Iya, sih, Bang. Tapi … kalau semua orang sudah kalah, sampai kapan harus bertahan?” bisik Ipah memelas.
Romli tak menjawab. Itulah yang ia pikirkan sejak tadi sore. Sampai kapan harus bertahan. Sampai kapan.

***

Pagi-pagi sekali seluruh bangunan proyek geger. Ada tangan jahil merubuhkan papan nama proyek Taman Indah Purnama di muka kantor proyek itu. Bahkan papan nama di sudut perempatan jalan lebih parah lagi. Papan megah berukuran empat kali lima meter itu hancur tak berbentuk lagi. Penuh bekas hantaman kapak. Di sampingnya tertancap papan sederhana bertuliskan:
Kampung ini tetap kampung Tamim. Ttd. Haji Ali Tamim (Alm).
Menjelang siang, Romli dijemput polisi. Tangannya diborgol. Ipah menangis menjerit-jerit.*


(Sumber: Kalung dari Gunung, Kumpulan Cerpen Pengarang-Pengarang Aksara, Bestari)


Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar!
1. Siapa tokoh utama dalam cerpen di atas?
2. Sudut pandang yang manakah yang dipakai oleh pengarang dalam cerpen tersebut?
3. Sebutkan tokoh-tokoh dan karakter masing-masing yang terdapat dalam cerpen tersebut!
4. Bagaimana struktur teks cerpen di atas?
5. Tunjukan bagian klimaks dari cerpen tersebut!
6. Dengan cara bagaimana pengarang menggambarkan watak tokoh-tokohnya? Tunjukkan!
7. Konflik apa yang dialami tokoh utama dalam cerpen tersebut?

Pahami cerpen tersebut dan ikuti kuis mengenai cerpen ini untuk mengukur pemahaman Anda!

Jumat, 20 Maret 2020

Minggu, 26 Maret 2017

Sabtu, 25 Maret 2017

Unsur-Unsur Pembangun Puisi (Puisi Bagian 2)

UNSUR-UNSUR PEMBANGUN PUISI
(PUISI BAGIAN 2)

Puisi terdiri atas unsur-unsur yang bersifat padu, tidak dapat dipisahkan antara satu unsur dengan unsur lainnya. Dalam kesatuannya, unsur-unsur tersebut bersifat fungsional. Adapun yang dimaksud dengan ide kesatuan adalah bahwa struktur itu merupakan keseluruhan yang bulat, yaitu bagian-bagian yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar struktur itu. Gambaran tentang puisi sebagai satu struktur utuh, misalnya dapat dilihat pada sajak berikut.

GADIS PEMINTA-MINTA
Toto Sudarto Bachtiar

Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang tanpa jiwa

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang

Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kauhafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, oh kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda

          Dalam puisi di atas dipenuhi nada keharuan penyair tersebut, dapat ditangkap lambang, kiasan, bunyi, diksi, dan unsur puisi lainnya yang khas untuk nada terharu. Ungkapan /senyummu terlalu kekal untuk kenal duka/ dan /tengadah padaku pada bulan merah jambu/ adalah sangat tepat untuk menggambarkan suasana sedih dan terharu. Kesedihan dan keterharuan belum tentu dapat diwakili oleh ungkapan lain. Pada puisi di atas penyair mengungkapkan keterharuannya dengan ungkapan /bulan merah jambu/. Keadaan dan keharuan penyair bukan disebabkan oleh keadaan dirinya sendiri, namun oleh keadaan /gadis kecil berkaleng kecil/. Kesedihan dan keharuan oleh rasa solidaritas kemanusiaan.
Menurut Herman J. Waluyo (1995:186) bahwa puisi memiliki dua struktur, yaitu struktur fisik dan struktur batin. Dikatakannya bahwa struktur fisik adalah apa yang dapat dilihat melalui bahasanya atau unsur bunyinya, sedangkan struktur batin adalah unsur yang dapat dihayati yang disampaikan secara tidak langsung. Keduanya disebut struktur karena masing-masing terdiri atas unsurunsur yang lebih kecil yang bersama-sama membangun kesatuan puisi.
Pendapat lain yang sering digunakan di dalam pengkajian puisi adalah pendapat yang disampaikan oleh Richards dalam Ristiani, (2003:20). Ia menyebut unsur pembangun puisi berdasarkan bentuk dan isi dengan istilah metode puisi dan hakikat puisi. Metode adalah media bagaimana puisi tersebut diungkapkan, sedangkan hakikat adalah unsur hakiki yang menjiwai puisi. Sementara itu, Atar Semi menyebutkan unsur pembangun puisi dengan tiga bentuk, yakni lapisan bunyi, lapisan arti, dan lapisan tema. Lapisan bunyi, yakni lapisan lambang-lambang bahasa puisi (bentuk fisik puisi). Lapisan arti adalah sejumlah makna yang dilambangkan oleh struktur atau oleh lapisan bunyi. Lapisan tema adalah suatu ”dunia” pengucapan karya puisi. Sesuatu yang menjadi tujuan penyair. Lapisan arti dan lapisan tema disebut juga bentuk mental.
Dalam kegiatan pembelajaran ini, istilah yang akan digunakan berkenaan dengan unsur-unsur pembangun puisi ini adalah istilah struktur fisik puisi dan struktur batin puisi.
 
a.      Struktur Fisik Puisi
Struktur fisik puisi atau unsur-unsur bentuk puisi merupakan unsur estetik yang membangun struktur luar puisi. Struktur fisik puisi dapat ditelaah di dalam metode puisi, meliputi: diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif (majas), versifikasi (rima dan ritma), dan tata wajah (tipografi dan enjambemen). Berikut adalah uraian mengenai aspek-aspek struktur fisik tersebut.

1)      Diksi
Diksi adalah pilihan kata yang digunakan dengan secermat oleh penyair. Diksi merupakan pemilihan kata yang tepat, padat, dan kaya akan nuansa makna dan suasana sehingga mampu mengembangkan dan mempengaruhi daya imajinasi pembaca. Pada saat pemilihan kata ini, sering terjadi pergulatan dalam diri penyair bagaimana dia memilih kata yang tepat, baik yang mengandung makna denotatif maupun yang bermakna konotatif. Selain itu, penyair juga mempertimbangkan urutan katanya, bunyi katanya, dan kekuatan (daya magis) dari kata-kata tersebut.
Puisi merupakan bentuk puisi yang bersifat konsentratif dan aksentuatif, artinya lebih memusatkan pada isi dari pada kulit luarnya. Hal ini akan berpengaruh terhadap pemilihan kata-kata yang digunakan. Kata-kata yang digunakan di dalam puisi bersifat singkat, padat, mantap, berat dan sarat akan makna. Pemadatan di dalam puisi dapat dicapai dengan penghematan pemakaian katakata. rinsip yang harus diingat adalah bahwa menulis puisi bukan menulis katakata, melainkan menulis esensi dari kata-kata itu (Tjahyono, 1988:59). 
Berdasarkan uraian di atas, hal yang harus dipahami dalam diksi atau pemilihan kata itu adalah: perbendaharaan katanya, urutan katanya, dan daya sugesti katanya. Perbendaharaan kata sangat penting untuk mengungkapkan kekuatan ekspresi. Antara penyair yang satu dengan penyair yang lainnya tidaklah sama, karena dilatarbelakangi oleh faktor sosial budaya penyair, daerah, suku, agama, pendidikan, jenis kelamin, dan lain-lain. Oleh karena itu, sering ditemukan puisi yang dibangun oleh kalimat-kalimat yang terpenggal, kurang sempurna, bahkan kadang terdiri atas satu kata saja. Perhatikanlah puisi Chairil Anwar di bawah ini

ISA

itu tubuh
mengucur darah mengucur darah

rubuh
patah

mendampar tanya: aku salah?

kulihat tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah

terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segera
mengatup luka

aku bersuka

itu tubuh
mengucur darah
mengucur darah


Urutan kata (word order) di dalam puisi bersifat beku. Artinya, urutan kata tersebut tidak dapat dipindahkan tempatnya meskipun maknanya tidak berubah oleh perpindahan kata tersebut. Cara penyusunan urutan kata itu (baik urutan dalam tiap baris maupun urutan dalam suatu bait puisi) sangat bergantung kepada penyair itu sendiri. 
Daya sugesti kata-kata sangat diperhatikan oleh penyair. Sugesti ini ditimbulkan oleh makna kata yang dipandang sangat tepat mewakili perasaan penyair. Karena ketepatan pilihan kata dan ketepatan penempatannya, maka kata-kata itu seolah-olah memancarkan daya gaib yang mampu memberikan sugesti kepada pembaca untuk ikut sedih, terharu, bersemangat, ataupun marah sekalipun.

2)      Pengimajian
Pengimajian dapat dibatasi dengan pengertian; kata atau susunan kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Baris atau bait puisi itu seolah mengandung gema suara (imaji auditif),  atau seolah benda yang tampak (imaji visual), atau sesuatu yang dapat dirasakan, diraba atau disentuh (imaji taktil).
Jika penyair menginginkan imaji pendengaran (imaji auditif), maka jika kita membaca puisi tersebut seolah kita ikut mendengarkan sesuatu. Jika penyair menginginkan imaji penglihatan (imaji visual), maka puisi itu seolah-olah melukiskan sesuatu yang bergerak-gerak. Jika penyair menginginkan imaji perasaan (imaji taktil), maka pembaca seolah-olah merasakan sentuhan perasaan. Berikut contoh penggalan puisi yang memperlihatkan pengimajian: 

Contoh: Imaji Visual

PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA
Hartoyo Andangjaya

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta
dari manakah mereka
Ke stasium kereta mereka datang dari bukit-bukit desa
sebelum peluit kereta pagi terjaga
sebelum hari bermula dalam pesta kerja

Perempuan-perempuan yang membawa bakul dalam kereta
ke manakah mereka
Mereka berlomba dengan surya menuju ke gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota

Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta!
siapakah mereka
akar-akar melata dari tanah perbukitan turun ke kota
Mereka: cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa


Pada larik /perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta/ seolaholah tampak perempuan yang sedang membawa bakul. Demikian juga pada larik / ... mereka datang dari bukit-bukit desa/ seolah-olah tergambar orangorang yang berjalan dari bukit-bukit desa. Sementara itu pada larik /Mereka berlomba ... menuju ke gerbang kota/ seakan-akan ada  sekelompok orang yang tergesa-gesa berjalan menuju ke kota/. Larik-larik tersebut yang mengungkapkan pengalaman sensori penglihatan menunjukkan adanya pengimajian secara visual.

Contoh: Imaji Auditif

TANAH KELAHIRAN I
Ramadhan K.H.

Seruling di pasir ipis, merdu
antara gundukan pohon pina,
tembang menggema di dua kaki
Burangrang – Tangkubanparahu

Jamrut di pucuk-pucuk,
Jamrut di air tipis menurun

Membelit tangga di tanah merah
dikenal gadis-gadis dari bukit.
Nyanyikan kentang sudah digali,
kenakan kebaya ke pewayangan.

Jamrut di pucuk-pucuk,

Jamrut di hati gadis menurun.

Foto By Roni Suliandana: Gunung Galunggung, Tasikmalaya

Larik /Seruling di pasir ipis, merdu/ menstimulasi sensori pendengaran, solah-olah terdengar suara seruling yang merdu. Pada larik /tembang menggema di dua kaki/ seakan-akan terdengar suara nyanyian. Larik-larik yang mengungkapkan pengalaman sensori pendengaran menunjukkan adanya pengimajian secara auditif.

Contoh: Imaji Taktil

Imaji taktil dapat kita lihat pada puisi Toto Sudarto Bachtiar dalam sajaknya yang berjudul ‘Gadis Peminta-minta’, seperti yang dituliskan di muka. Dalam puisinya tersebut ia sangat mahir menciptakan imaji, sehingga seolah pembaca menghayati penderitaan gadis peminta-minta baik secara visual, maupun secara taktil. Dalam larik /Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral/ /melintas-lintas di atas air kotor tapi begitu kauhafal/ /Jiwa begitu murni, terlalu murni/ /Untuk bisa membagi dukaku/.

Ada beberapa upaya di dalam pengimajian ini seperti dengan menggunakan kombinasi kata dan repetisi. Kombinasi kata dapat ditempuh dengan cara: penjajaran pararelisme, penjajaran paradoksal, penjajaran metafora, penjajaran personifikasi. Repetisi ditempuh dengan cara mengulang bagian-bagian yang sudah dibunyikan. Seperti dalam sajak Isa di depan, yang mengulang-ulang kata-kata /mengucur darah/.

1)      Kata Konkret
Untuk membangkitkan imaji (daya bayang) pembaca,maka kata-kata harus diperkonkret. Kata-kata yang diperkonkret ini erat hubungannya dengan penggunaan kiasan dan lambang. Jika penyair mahir memperkonkret kata-kata, maka pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasa apa yang dilukiskan oleh panyair. Dengan demikian, pembaca terlibat penuh secara batin ke dalam puisi tersebut.
Dengan kata-kata yang diperkonkret, pembaca dapat membayangkan secara jelas keadaan atau peristiwa yang digambarkan penyair. Seperti pada sajak “Gadis Peminta-minta”, untuk melukiskan gadis itu seorang pengemis yang gembel, penyair mengkonkretkannya dengan kata-kata /gadis kecil berkaleng kecil/. Lukisan itu lebih konkret daripada ‘gadis peminta-minta’ atau ‘gadis miskin’.
Begitu juga seperti yang tampak di dalam puisi Chairil Anwar. Misalnya dalam sajaknya yang berjudul ‘Doa’, ia mengkonkretkan gambaran jiwanya yang penuh dosa dengan menggunakan kata-kata: aku hilang bentuk/remuk. Untukmelukiskan tekadnya yang bulat kembali ke jalan Tuhan, diperkonkret dengat ungkapan: Tuhanku/ di pintuMu aku mengetuk/ aku tidak bisa berpaling. Untuk memperkonkret sikap kebebasannya, Chairil Anwar menggunakan katakata: “aku ini binatang jalang/ dari kumpulannya yang terbuang”. Untuk memperkonkret cita-citanya yang abadi,ia menggunakan kata-kata: “kumau hidup seribu tahun lagi”. Pada saat Chairil Anwar bersiap-siap menghadapi kematian, suasana gelisah diperkonkret dengan kata-kata: “aku berrenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang”.
2)      Majas (Bahasa Figuratif)
Bahasa figuratif adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna. Bahasa yang digunakan seakan-akan berfigura (bersusun-susun). Bahasa yang dinyatakan sebagai bahasa figuratif ini terdiri atas pengiasan yang menimbulkan makna kias, dan pelambangan yang menimbulkan makna lambang. Kata atau bahasanya bermakna kias atau makna lambang. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna.
Bahasa figuratif dipandang lebih efektif untuk menyatakan apa yang dimaksudkan penyair, karena: 1) bahasa figuratif mampu menghasilkan kesenangan imajinatif; 2) bahasa imajinatif adalah cara untuk menghasilkan imajinasi tambahan dalam puisi, sehingga yang abstrak menjadi konkret, dan menjadikan puisi enak dibaca; 3) bahasa figuratif adalah cara menambah intensitas perasaan penyair; 4) bahasa figuratif adalah cara mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan (menyampaikan sesuatu yang banyak dengan bahasa yang singkat).
Untuk memahami bahasa figuratif ini, pembaca harus dapat menafsirkan kiasan dan lambang yang dibuat penyair baik lambang yang konvensional maupun lambang yang nonkonvensional. Kiasan (gaya bahasa) sebagai upaya untuk menimbulkan makna kias ini, antaralain: metafora (kiasan langsung), perbandingan (kiasan tidak langsung), personifikasi, hiperbola, sinkdoce, ironi, dan lain-lain.
Selain kiasan, penyair juga menggunakan pelambangan. Pelambangan tersebut digunakan penyair untuk memperjelas makna dan membuat nada dan suasana sajak menjadi lebih jelas, sehingga dapat menggugah hati pembaca. Jika dalam kiasan suatu hal dikiaskan (dibandingkan) dengan hal lain, maka di dalam pelambangan, sesuatu hal tersebut digantiatau dilambangkan dengan hal lain. Misalnya lambang yang terdapat di dalam upacara perkawinan, berupa: janur kuning yang melambangkan kebahagiaan dan kesucian pengantin yang masih muda.
Macam-macam lambang ditentukan oleh keadaan atau peristiwa apa yang digunakan oleh penyair untuk mengganti keadaan atau peristiwa. Ada lambang warna, lambang benda,lambang bunyi, lambang suasana,dan lain-lain. Pelambangan erat hubungannya dengan kata-kata  konkret. Dengan pelambangan kata-kata yang diciptakan menjadi lebih konkret sehingga mempermudah proses pengimajian.        Misalnya: “Kabut Sutra Ungu”, menggunakan warna ungu untuk melambangkan kesedihan pelaku utamanya; Burung dara jantan yang dulu kau pelihara/ kini telah terbang dan menemui jodohnya/ ia akan pulang buat selama-lamanya. Perhatikanlah puisi Chairil Anwar di bawah ini!

SENJA DI PELABUHAN KECIL
Buat Sri Ayati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut,
Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
Menyinggung muram, desir hari lari berenang
Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
Dan kini, tanah, air, tidur, hilang ombak
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
Menyisir semenanjung, masih pengap harap
Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
Dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap

Chairil Anwar

Untuk menciptakan suasana duka, Chairil Anwar dalam puisi “Senja di Pelabuhan Kecil”  menggunakan bunyi-bunyi /i/ yang dipadu dengan bunyi /a/.

3)      Versifikasi (Rima, Ritme)
Bunyi di dalam puisi menghasilkan rima dan ritma. Rima adalah pengulangan bunyi di dalam puisi. Digunakan kata rima untuk menggantikan istilah persajakan pada sistem lama karena diharapkan penempatan bunyi dan pengulangan bunyi tidak hanya pada akhir baris, namun juga untuk keseluruhan baris dan bait. Dalam rima terdapat onomatope (tiruan terhadap bunyi-bunyi yang ada), bentuk intern pola bunyi, intonasi, repetisi bunyi, dan persamaan bunyi.
Contoh kata-kata onomatope seperti yang banyak digunakan Sutardi Calzoum Bachri: ngiau, huss, ping, pong, papaliko, dan lain-lain. Contoh intern pola bunyi (Sunda: Purwakanti): aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi, dan sebagainya. Rima juga tidak hanya pada pengulangan bunyi, tapi dapat juga terjadi pada pengulangan kata/ungkapan. 
Ritme adalah suatu bentuk irama, yakni suatu gerak yang teratur, suatu rentetan bunyi berulang dan menimbulkan variasi bunyi yang menciptakan gerak yang hidup. Ritme dibentuk dengan jalan mempertentangkan bunyi, membuat perulangan, menyingkat kata, dan pemilihan kata yang tepat. Perhatikan puisi di bawah ini!

NASIHAT-NASIHAT KECIL ORANG TUA
PADA ANAKNYA BERANGKAT DEWASA
                                           Taufik Ismail

Jika adalah yang harus kau lakukan
Ialah menyampaikan kebenaran
Jika adalah yang tak bisa dijual-belikan
Ialah yang bernama keyakinan
Jika adalah yang harus kau tumbangkan
Ialah segala pohon-pohon kezaliman
Jika adalah orang yang harus kau agungkan
Ialah hanya Rosul Tuhan
Jika adalah kesempatan memilih mati
Ialah syahid di jalan Illahi


Rima pada puisi “Nasihat-nasihat Kecil Orang Tua pada Anaknya Berangkat Dewasa” berupa pengulangan bunyi, yaitu persamaan awal yang ditunjukkan dengan pengulangan kata “jika adalah” dan “ialah”.
Ritme (irama) pada puisi tersebut di antaranya terbangun dengan pemilihan kata / ... kebenaran/ ... keyakinan/ ... kezaliman/ ... Rosul Tuhan/ ... syahid di jalan Illah/. Pemilihan kata-kata tersebut menimbulkan variasi bunyi yang menciptakan gerak yang hidup.

4)      Tata Wajah (Tipografi dan Enjambemen)
Tipografi dan enjambemen merupakan dua hal yang menyangkut perwajahan sebuah puisi. Tipografi disebut juga ukiran bentuk. Dalam sebuah puisi, tipografi diartikan sebagai tatanan larik, bait, kalimat, frase, kata, dan bunyi. Tujuannya adalah untuk menghasilkan suatu bentuk fisik (menciptakan keindahan visual) yang mendukung isi, rasa, dan suasana. Termasuk ke dalam tipografi sebagai lukisan bentuk puisi ini adalah pemakaian huruf kapital dan huruf kecil serta pemakaian tanda baca.
Enjambemen adalah pemotongan kalimat atau frase di akhir larik kemudian pemotongannya diletakkan pada larik berikutnya. Manfaat enjambemen akan terwujud apabila penggunaannya dilakukan dengan penuh kesadaran dalam rangka mencapai tujuan. Tidak ada aturan tertentu dalam berenjambemen ini, karena hal ini menyangkut masalah gaya dan teknik penulisan yang sifatnya sangat personal. Berikut adalah contoh tata wajah dalam puisi.

1943
                  Chairil Anwar

Racun berada di reguk pertama
Membusuk rabu terasa di dada
Tenggelam darah nanah
Malam kelam-membelam
Jalan kaku-lurus. Putus
Candu
Tumbang
Tanganku menadah patah
Luluh
Terbenam
Hilang
Lumpuh
Lahir tegak
Berderak
Rubuh
Runtuh
Mengaum. Mengguruh
Menentang. Menyerang
Kuning
Merah
Hitam
Kering
Tandus
Rata
Rata
Dunia
Kau
Aku
Terpaku

Tata wajah yang dibuat oleh Chairil Anwar pada puisi “1943” antara lain, pusi tersebut dibuat dalam satu bait sehingga memberikan makna yang lebih utuh (satu). Tata wajah lainnya adalah penulisan larik seperti /Mengeluh. Mengguruh/ Menentang. Menyerang/. Larik tersebut terdiri atas dua kata yang dipisahkan dengan tanda baca titik (.). Sementara itu, enjambemen atau pemotongan kalimat atau frase pada puisi “1943”, misalnya, terlihat pada /Kau/ Aku/ Terpaku/. Untuk menciptakan suasana yang diinginkan, Chairil Anwar memilih menuliskan bagian puisi tersebut dalam larik-larik yang berbeda meskipun dapat saja dibuat dalam satu larik seperti /Kau, aku terpaku/.

a.      Struktur Batin Puisi
Struktur batin puisi adalah segala hal yang ingin diungkapkan penyair berkenaan dengan perasaan dan suasana jiwanya. Ungkapan perasaannya itu disampaikan melalui media bahasa. Medium bahasa itulah yang merupakan struktur fisiknya. Pada bahasa yang digunakan tersebut, ada banyak makna yang terkandung di dalamnya. Lebih-lebih lagi, kata-kata, frase dan kalimat yang digunakan di dalam puisi menggunakan bahasa figuratif.
L.A. Richards menyebut struktur batin puisi itu dengan istilah hakikat puisi. Menurutnya, ada empat unsur hakikat sebuah puisi, yakni:

1)      Tema
Tema merupakan gagasan pokok yang dikemukakan penyair. Gagasan pokok tersebut begitu kuat mempengaruhi panyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapannya. Jika desakan kuat itu berupa hubungan antara penyair dengan Tuhan, maka puisinya bertema ketuhanan. Jika desakan yang kuat itu berupa rasa belas kasih atau kemanusiaan, maka puisinya bertema kemanusiaan. Jika yang kuat adalah dorongan untuk memprotes ketidakadilan, maka temanya adalah protes atau kritik sosial. Jika perasaan cinta (kasih sayang, asmara, patah hati) yang kuat, maka tema puisinya adalah tema percintaan. Berikut ini contoh puisi ketuhanan.

DOA
                         Amir Hamzah

Dengan apa kubandingkan pertemuan kita,
kekasihku?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama
meningkat naik, setelah menghalaukan panas
payah terik.
Angin malam menghembus lemah, menyejuk badan,
melambung rasa menayang pikir, membawa angan ke
bawah kursimu.
Hatiku terang menerima katamu, bagai bintang
memasang lilinnya
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap
malam menyirak kelopak
Aduh kekasihku, isi hatiku dengan katamu,
Penuhi dadaku dengan cayamu, biar bersinar
mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu!


Pada puisi ”Doa” digambarkan sebuah pertemuan antara ”aku” dan ”kekasih”, /Hatiku terang menerima katamu …/ Kalbuku terbuka menunggu kasihmu …/ Aduh kekasihku, isi hatiku dengan katamu/ Penuhi dadaku dengan cayamu/. Namun, yang dimaksud “kekasih” di dalam puisi ini adalah Tuhan. Oleh karena itu, puisi “Doa” tergolong puisi bertema ketuhanan.
Contoh puisi kemanusiaan antara lain puisi “Gadis Peminta-minta” karya Toto Sudarto Bachtiar  yang sudah dituliskan di depan. Pada puisi tersebut diungkapkan rasa sedih dan solidaritas pengarang terhadap nasib ”gadis kecil berkaleng kecil” atau peminta-minta. Bahkan, penulis menyebutkan bahwa jika ”gadis kecil berkaleng kecil” tidak ada, kota tidak lagi punya tanda.
Puisi yang bertema patriotisme/kebangsaan adalah puisi yang dapat meningkatkan perasaan cinta akan bangsa dan tanah air, melukiskan perjuangan merebut kemerdekaan,  mengisahkan riwayat seorang pahlawan dalam melawan penjajah, meningkatkan rasa kenasionalan dan membina kesatuan bangsa. Berikut adalah contoh puisi yang bertema patriotisme.

DIPONEGORO
Chairil Anwar

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar, Lawan banyaknya seratus kali

Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati

MAJU

Ini barisan tak bergenderang – berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu

Sekali berarti
Sudah itu mati

MAJU

Bagimu negeri
Menyediakan api

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang.

Tema patriotisme/kebangsaan pada puisi ”Diponegoro” sangat nyata terlihat, bahwa di masa pembangunan ini semangat perjuangan seperti yang ditunjukkan pahlawan Diponegoro harus dibangun. Tak gentar walau rintangan menghadang. Bahkan, harus rela walau keberhasilan pembangun baru terwujud setelah kita tiada.
Puisi lainnya yang berisi tema kebangsaan ini adalah sajak yang berjudul “Krawang Bekasi” (Chairil Anwar), “Kita adalah Pemilik Sah Republik ini” (Taufik Ismail), dan lain-lain. Selain itu ada juga puisi yang bertema keadilan sosial seperti sajak “Dari Seorang Guru kepada Murid-muridnya” karya Rendra.  

2)      Rasa (Feeling)
Feeling atau rasa adalah sikap penyair terhadap subjek atau pokok persoalan yang terdapat di dalam puisi. Karena itu untuk mengungkapkan tema yang sama, jika perasaan penyair berbeda, hasil puisi yang diciptakannya pun akan berbeda. Sikap-sikap itu mungkin berupa kemarahan, kasihan,simpatik, rasa senang dan tidak senang, acuh tak acuh, dan sebagainya. Sebagai contoh, pokok persoalannya adalah pengemis. Perasaan Chairil Anwar berbeda dengan perasaan Toto Sudarto Bachtiar. Coba baca kembali puisi ”Gadis Peminta-minta” dan bandingkan dengan puisi ”Peminta-minta”. Begitupun yang bertemakan ketuhanan, Anada dapat membandingkan puisi “Doa”  karya Chairil Anwar dengan puisi “Padamu Jua” karya Amir Hamzah. Karena sikap penyair terhadap Tuhan pada saat itu berbeda, maka perasaan yang dihasilkan juga berbeda. Perasaan cinta yang diungkapkan Chairil Anwar dalam sajaknya “Senja di Pelabuhan Kecil” berbeda pula dengan perasaan cinta yang diungkapkan Rendra dalam sajaknya “Surat Cinta”.

3)      Nada dan Suasana
Nada adalah sikap penyair terhadap pembaca, apakah ia ingin bersikap menggurui, menasihati, mengejek, menyindir, atau bersikap lugas. Ada juga puisi yang bernada santai, karena penyair bersikap santai kepada pembaca, misalnya dalam puisi-puisi mbeling (Waluyo, 1995:126).
Jika nada merupakan sikap penyair terhadap pembaca, maka suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi tersebut atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca. Kerananya, nada dan suasana saling berhubungan sebab nada puisi menimbulkan suasana terhadap pembacanya. Misalnya, nada duka yang diciptakan penyair dapat menimbulkan suasana iba hati pembacanya. Nada lainnya yang diciptakan penyair seperti nada gemas, nada main-main, nada revolusioner, nada memelas, nada gelisah, dan lain-lain. Untuk pemahaman akan nada ini, bacalah sajak ”Diponegoro” karya Charil Anwar di muka sebagai contoh nada revolusioner atau nada mainmain dari sajak ”Sajak Sakit Gigi” karya Yudistira.

4)      Amanat
Amanat atau pesan ini sering pula disebut tujuan, yakni tujuan penyair dengan menciptakan sajak atau puisi tersebut. Amanat atau tujuan yang ingin diungkapkan penyair pada umumnya sesuai dengan pekerjaan, cita-cita, pandangan hidup, keyakinan yang dianut penyair, dan lain-lain. Amanat yang akan disampaikan penyair dapat ditelaah setelah kita memahami tema, rasa, dan nada puisi itu. Amanat tersirat di balik kata-kata yang tersusun dan juga di balik tema yang diungkapkan.
Ada  perbedaan  tema  dengan  amanat.  Dalam  merumuskan  amanat,  tema  itu harus dilengkapi dengan perasaan dan nada yang dikemukakan penyair. Jadi, bisa saja temanya sama, misalnya tema Ketuhanan, tetapi mungkin amanatnya berbeda  karena  penyair  mempunyai  perasaan  dan  nada  yang  berbeda. Rumusan  tema  bersifat  objektif  dan  sama  bagi  semua  pembaca,  sedangkan rumusan  amanat  dapat  berbeda  bergantung  penafsiran  masing-masing. Artinya,  amanat  sebuah  puisi  dapat  bersifat  interpretatif,  setiap  orang mempunyai penafsiran makna yang berbeda.